Google, Facebook, Apple dan IBM Sepakat untuk TIdak Membantu Program Pengawasan Muslim Di AS

Oleh:   Serhamo Serhamo   |   12/18/2016 08:59:00 pm
Perusahaan raksasa teknologi AS menolak program pengawasan muslim di Amerika Serhamo.net - Sembilan raksasa teknologi AS Google, Microsoft, Facebook, Apple, Twitter, IBM, Booz Allen Hamilton, SRA International, dan CGI, sebelumnya telah menerima masing-masing satu pertanyaan yang sama perihal kesediaan mereka menjual barang, jasa, informasi, maupun konsultasi untuk memfasilitasi pencatatan penduduk sipil Muslim di AS. Hanya satu perusahaan yang merespon hal tersebut yaitu Twitter, mereka menolak untuk berbagi data untuk membantu pemerintahan AS melakukan pengawasan terhadap kaum muslim AS.

Dilansir dari Buzzfeed (18/12/2016), pada hari Jumat kemarin beberapa perusahaan antara lain Facebook, Apple, Google, UBER, IBM, dan Microsoft akhirnya merespon dengan mengatakan menolak untuk membantu memberikan data mereka kepada pemerintah terpilih AS Donal Trump.

Juru bicara Apple mengatakan "Kami pikir orang harus diperlakukan sama tidak peduli bagaimana mereka menyembah, apa yang mereka lihat, yang mereka cintai. dan kami akan menentang upaya yang dilakukan pemerintah AS. "

Seorang juru bicara untuk IBM mengatakan, "Tidak, IBM tidak akan bekerja pada proyek ini. Perusahaan kami memiliki nilai-nilai lama dan track record yang kuat menentang diskriminasi terhadap siapa pun atas dasar ras, jenis kelamin, orientasi seksual atau agama. perspektif yang tidak berubah, dan tidak akan pernah. "

Uber pun mengatakan demikian mengatakan "Tidak," dalam menanggapi pertanyaan yang sama. Sementara untuk Amazon, Oracle dan yang lain masih belum mau menanggapi pertanyaan tersebut.

Selama masa kampanye pilpres AS, Trump memang sangat gencar dalam menyuarakan program pengawasan terhadap kaum Muslim di sana, dan ingin membangun sebuah database pengungsi Suriah setelah pemilu.

Setelah terpilih pun Trump rupanya konsisten melakukan mencatat ulang penduduk muslim dengan langsung membahasnya dalam pertemuan para petinggi Silicon Valley. Trump beralasan programnya ini bertujuan untuk mencegah aksi terorisme.

Pada 2013, Edward Snowden mantan intelijen NSA dan CIA membocorkan dokumen rahasia yang menggambarkan program pengawasan dan mata-mata yang disebut PRISM melalui berbagai media seperti smartphone, webcam dan lainnya yang menggunakan data dari perusahaan besar seperti Google, Apple, Microsoft, dan Yahoo. Perusahaan raksasa teknologi AS tersebut pun membantah tuduhan Snowden.

Kita tidak tahu bagimana suatu perusahaan berjalan dibelakang layar, pernyataan hanyalah pernyatan yang bisa dikeluarkan oleh siapapun.

Tampilkan Komentar